Kapal  Phinisi
Menu

Kayu Kapal Pinisi: Bitti, Ulin, Naknasa, dan Cara Punggawa Memilihnya

Di halaman ini
  1. Kayu apa saja yang tercatat untuk kapal pinisi?
  2. Apa yang diketahui tentang bitti, dan sejauh mana buktinya?
  3. Mengapa ulin dikenal tahan air, dan apa risikonya?
  4. Mengapa naknasa dipilih, dan mengapa namanya perlu dicocokkan?
  5. Bagaimana dengan jati, nyatoh, dan asal kayu?
  6. Bagaimana punggawa mencari dan menyiapkan kayu?
  7. Berapa lama kayu bertahan di laut, dan bagaimana merawatnya?
  8. Apa yang perlu ditulis soal kayu di spesifikasi pesanan?
  9. Apa lagi yang biasa ditanyakan soal kayu pinisi?
  10. Dari mana fakta di halaman ini berasal?
  11. Bagaimana cara menghubungi desk?

Oleh Kapal Phinisi Editorial Desk

Susunan gading dan papan kayu di dalam lambung kapal phinisi yang sedang dibuat
Bagian dalam lambung kayu saat kapal phinisi dibuat. Foto: Muchtamir, CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons, ukuran diubah. Foto ilustrasi: bukan kapal, proyek, atau layanan situs ini, dan bukan kapal yang ditawarkan.

Kayu kapal pinisi dipilih menurut fungsi bagian kapal, dan pencariannya dipimpin punggawa. Tiga nama punya sumber yang bisa dibaca: bitti atau gofasa (Vitex cofassus), ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri) yang dikenal tahan lama di air, dan naknasa yang dipilih karena seratnya kedap air dan penyusutannya kecil. Peran jati dan nyatoh belum bisa dipastikan.

Kayu apa saja yang tercatat untuk kapal pinisi?

Tidak ada satu jenis kayu untuk seluruh kapal. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat bahwa jenis pohon disesuaikan dengan fungsinya, dan keputusan itu berada di tangan punggawa yang memimpin pencarian kayu. Sumber itu tidak memberi daftar kayu per bagian kapal, sehingga pembaca perlu melihat setiap nama secara terpisah dan memeriksa dari mana keterangannya berasal.

Kayu apa saja yang tercatat untuk kapal pinisi?
KayuNama lain atau ilmiahYang tercatatBelum bisa dipastikan
BittiGofasa, Vitex cofassus, famili LamiaceaeDitanam untuk kayu kerasPemakaian khusus pada gading atau rangka pinisi
UlinKayu besi, Eusideroxylon zwageriTinggi 30 sampai 35 m, diameter setinggi dada 60 sampai 120 cm, bertahan lama di air, bahan baku dari hutan alamPemakaian pada lunas pinisi
NaknasaNama lokalDipilih karena serat kedap air dan penyusutan kecilPadanan nama ilmiahnya
Jati, nyatohBelum kami cocokkanBelum ada rujukan bertautanBagian kapal yang memakainya dan asal kayunya

Perhatikan kolom terakhir. Di antara tiga nama pertama, hanya keterangan naknasa yang datang dari jurnal UIN Alauddin yang membahas kapal pinisi. Keterangan bitti dan ulin datang dari entri botani, yang menjelaskan sifat pohonnya dan tidak membahas kapal. Jadi sifat kayunya cukup jelas, sedangkan letak pemakaiannya di kapal lebih sedikit bukti.

Apa yang diketahui tentang bitti, dan sejauh mana buktinya?

Entri Gofasa di Wikipedia bahasa Indonesia mencatat bitti sebagai Vitex cofassus dari famili Lamiaceae, pohon yang ditanam untuk kayu kerasnya. Kata ditanam itu penting bagi pemesan, karena berarti ada kemungkinan sumber kayu selain tebangan hutan alam. Tetapi entri itu tidak menyatakan bahwa semua bitti di pasaran berasal dari tanaman, jadi asal kayu tetap perlu ditanyakan untuk setiap pembelian.

Anggapan bahwa bitti adalah bahan gading atau rangka banyak ditulis di situs komersial. Kami belum bisa mengonfirmasinya dari sumber akademik atau resmi, sehingga kami tidak menuliskannya sebagai kebiasaan yang sudah pasti. Bila penawaran Anda menyebut gading dari bitti, itu pilihan yang bisa didiskusikan. Mintalah alasan teknisnya dari orang yang akan mengerjakan, dan pastikan jenis kayunya tertulis di spesifikasi.

Mengapa ulin dikenal tahan air, dan apa risikonya?

Entri Ulin di Wikipedia bahasa Indonesia memakai kalimat yang tegas: "hanya kayu ulin yang mampu bertahan lama di air". Pohonnya, Eusideroxylon zwageri, tumbuh setinggi 30 sampai 35 meter dengan diameter setinggi dada 60 sampai 120 sentimeter. Kalimat tegas itu berasal dari artikel umum tentang pohon ulin dan tidak ditulis sebagai hasil perbandingan untuk kapal pinisi, jadi jangan membacanya sebagai bukti bahwa kayu lain tidak layak.

Sisi lainnya disebut di entri yang sama: bahan baku ulin berasal dari hutan alam dan kelestariannya terancam. Ini bukan catatan pinggir bagi pemesan. Kayu yang dipuji karena ketahanannya justru pasokannya perlu dipertanyakan. Klaim bahwa ulin dipakai untuk lunas pinisi kami temui di tulisan wisata dan belum terverifikasi. Sebelum memasukkan ulin ke spesifikasi, tanyakan bagian mana yang benar-benar membutuhkannya dan dari mana kayu itu datang.

Mengapa naknasa dipilih, dan mengapa namanya perlu dicocokkan?

Jurnal UIN Alauddin menyebut naknasa dipilih karena seratnya kedap air dan penyusutannya kecil. Dua sifat ini langsung berhubungan dengan cara lambung pinisi dirapatkan. Papan yang banyak menyusut akan membuka sela di antara papan, sementara sela itu justru yang diisi pada tahap a'panisi.

Masalahnya ada pada nama. Naknasa adalah sebutan lokal, dan kami belum dapat mencocokkannya dengan nama ilmiah tertentu. Satu nama lokal bisa saja dipakai untuk jenis yang berbeda. Bila naknasa muncul dalam penawaran, mintalah keterangan jenis yang lebih spesifik atau contoh potongan kayunya, supaya yang disepakati di atas kertas sama dengan yang sampai di lokasi kerja.

Bagaimana dengan jati, nyatoh, dan asal kayu?

Jati dan nyatoh sering muncul dalam tulisan tentang pinisi, begitu pula klaim tentang daerah asal kayu tertentu. Karena itu halaman ini tidak memberi rekomendasi berdasarkan klaim tersebut. Hal yang sama berlaku untuk urusan legalitas: persyaratan SVLK dan izin khusus untuk ulin atau bitti belum kami konfirmasi dari peraturannya.

Kekosongan ini tidak berarti kayu tersebut tidak dipakai. Artinya, keputusan soal kayu sebaiknya bertumpu pada dokumen pembelian dan penjelasan teknis untuk proyek Anda sendiri, dan bukan pada daftar umum di internet. Tanyakan dokumen asal kayu kepada pihak yang mengajukan penawaran, lalu periksa kebenarannya ke instansi kehutanan setempat bila nilainya besar.

Bagaimana punggawa mencari dan menyiapkan kayu?

Wikipedia bahasa Indonesia mencatat rangkaian kerja yang berurutan sebelum kayu sampai ke lambung:

  1. Memilih hari. Pencarian kayu mengikuti hari baik dalam bulan berjalan.
  2. Upacara sebelum menebang. Pohon tidak langsung ditebang; ada upacara dan persembahan lebih dulu.
  3. Mencocokkan pohon dengan fungsi. Jenis pohon disesuaikan dengan peran bagian kapal yang akan dibuat.
  4. Memotong searah urat. Papan dipotong mengikuti arah urat kayu.
  5. Mengeringkan. Kayu dikeringkan lebih dulu sebelum dipasang.

Dua langkah terakhir punya akibat langsung bagi pemesan, karena keduanya menyita waktu dan menentukan mutu papan. Jadwal yang tidak menyisakan waktu pengeringan layak dipertanyakan. Nama hari baik dan isi upacaranya ada di artikel ritual pembuatan kapal pinisi, dan letak kayu dalam urutan konstruksi ada di panduan pembuatan.

Berapa lama kayu bertahan di laut, dan bagaimana merawatnya?

Belum ada angka umur pakai per jenis kayu yang bisa kami pertanggungjawabkan, dan interval perawatan untuk laut tropis juga tidak kami temukan di sumber yang bisa dibuka. Hati-hatilah terhadap janji dalam satuan tahun, karena umur pakai dipengaruhi banyak hal: jenis kayu, tingkat kering saat dipasang, cara merapatkan papan, dan cara kapal dirawat.

Solusi praktisnya ada di kontrak. Mintalah pihak yang mengajukan penawaran menulis rencana perawatan untuk kayu yang mereka pilih: bagian mana yang diperiksa, seberapa sering, dan bahan apa yang dipakai. Dokumen seperti ini lebih berguna daripada janji umur kapal dalam satuan tahun.

Apa yang perlu ditulis soal kayu di spesifikasi pesanan?

Spesifikasi yang baik membuat pilihan kayu bisa diperiksa orang lain. Permintaan lewat desk dapat berujung pada kontrak dengan perusahaan kami, jadi uji penawaran kami dengan butir yang sama. Tulis setidaknya butir berikut sebelum menyepakati alur memesan kapal pinisi:

  • Jenis kayu untuk tiap bagian utama: lunas, gading, papan lambung, geladak, dan tiang.
  • Nama lokal dan, bila ada, nama ilmiahnya.
  • Asal kayu dan dokumen pembeliannya.
  • Cara dan lama pengeringan sebelum papan dipasang.
  • Aturan penggantian bila jenis yang disepakati tidak tersedia, termasuk siapa yang menyetujuinya.

Kalimat "kayu pilihan" atau "kayu kualitas ekspor" tidak bisa diperiksa dan sebaiknya diganti dengan nama jenis. Bila belum tahu harus memilih apa, wajar mengakuinya di brief dan meminta usulan tertulis berikut alasannya.

Apa lagi yang biasa ditanyakan soal kayu pinisi?

Kayu apa yang paling tahan air untuk kapal pinisi?

Ulin punya catatan paling tegas: entri ensiklopedianya menyebut kayu ini mampu bertahan lama di air. Keterangan itu berasal dari artikel umum tentang pohon ulin, jadi tanyakan bagian kapal yang benar-benar membutuhkannya.

Apa nama ilmiah kayu bitti?

Vitex cofassus, dari famili Lamiaceae. Kayu ini juga dikenal dengan nama gofasa dan ditanam untuk kayu kerasnya.

Apakah kapal pinisi harus memakai kayu ulin?

Tidak. Jenis pohon disesuaikan dengan fungsi bagian kapal, dan ulin tidak disebut sebagai syarat. Kelestarian ulin juga terancam, sehingga pemakaiannya layak dipertimbangkan matang.

Apakah jati dipakai untuk kapal pinisi?

Belum bisa kami pastikan. Bila penawaran menyebut jati, minta bagian kapal dan dokumen asal kayunya ditulis.

Apakah kayu pinisi langsung dipasang setelah ditebang?

Tidak. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat papan dipotong searah urat dan kayu dikeringkan lebih dulu, jadi jadwal proyek perlu menyediakan waktu untuk itu.

Dari mana fakta di halaman ini berasal?

Bagaimana cara menghubungi desk?

Punya rencana kapal dan belum yakin soal bahan? Tulis lewat WhatsApp 6281139414563 atau email bd@juaraholding.com, dan sebutkan fungsi kapal serta perairan yang akan dilayari.

Punya spesifikasi kapal?

Kirim jenis kapal, ukuran, dan pekerjaannya. Desk menjawab dengan penawaran tertulis.

Minta penawaran lewat WhatsApp bd@juaraholding.com