Kapal  Phinisi
Menu

Kapal Pinisi dan UNESCO: Seni Pembuatan Kapal Sulawesi Selatan sebagai Warisan Budaya Takbenda (2017)

Di halaman ini
  1. Apa sebenarnya yang masuk daftar UNESCO?
  2. Kapan keputusan itu dibuat, dan apa nomor berkasnya?
  3. Apa yang dikatakan berkas tentang pusat pembuatan kapal dan penduduknya?
  4. Pengetahuan apa yang diwariskan dalam tradisi ini?
  5. Mengapa tradisi ini diakui di tingkat dunia?
  6. Apa yang tidak berubah setelah inskripsi 2017?
  7. Bagaimana cara mengutip keputusan UNESCO dengan benar?
  8. Pertanyaan apa yang biasanya muncul tentang pinisi dan UNESCO?
  9. Dari mana fakta di halaman ini berasal?
  10. Bagaimana cara menghubungi desk?

Oleh Kapal Phinisi Editorial Desk

Haluan kapal pinisi kayu biru dan putih di dermaga Pelabuhan Sunda Kelapa
Kapal pinisi di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. Foto: Cun Cun, CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons, ukuran diubah. Foto ilustrasi: bukan kapal, proyek, atau layanan situs ini, dan bukan kapal yang ditawarkan.

Pinisi masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO pada 2017, dengan judul Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi, berkas 01197, keputusan 12.COM 11.b.13. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat tanggalnya 7 Desember 2017. Yang masuk daftar adalah seni dan pengetahuan membuat kapal di Sulawesi Selatan, sehingga tidak ada satu kapal pun yang memegang status itu.

Apa sebenarnya yang masuk daftar UNESCO?

Judul berkasnya sudah menjawab: art of boatbuilding, seni membangun perahu. Yang dicatat adalah keahlian membuat kapal di Sulawesi Selatan beserta pengetahuan para tukangnya. UNESCO menaruhnya di Representative List, daftar representatif warisan budaya takbenda kemanusiaan, seperti tertulis di halaman berkas UNESCO.

Perbedaan ini penting karena kata pinisi punya arti teknis yang lebih sempit. Dalam pemakaian teknis, pinisi menamai sistem layar: susunan tiang, layar, dan tali-temali. Lambung di bawahnya bisa palari, jonggolang, atau lambo, menurut Wikipedia bahasa Indonesia. Judul berkas UNESCO memakai nama yang sama untuk sebuah tradisi kerja. Pembaca jadi berhadapan dengan dua pengertian: pinisi sebagai rig, dan pinisi sebagai nama tradisi pembuatan kapal yang tercatat.

Akibatnya, kalimat "kapal ini warisan UNESCO" terlalu longgar. Sebuah kapal bisa lahir dari tradisi yang tercatat, tetapi pencatatan itu melekat pada tradisinya. Kapal baru tidak otomatis membawa status apa pun hanya karena memakai layar pinisi atau dibangun di Sulawesi Selatan.

Kapan keputusan itu dibuat, dan apa nomor berkasnya?

Inskripsi terjadi pada 2017, dalam sesi ke-12 Komite yang berkode 12.COM. Enam data berikut cukup untuk sebagian besar keperluan tulisan, laporan, dan bahan ajar. Kolom sumber sengaja dipisahkan, karena tidak semua data berasal dari tempat yang sama.

Kapan keputusan itu dibuat, dan apa nomor berkasnya?
DataIsiSumber
Judul berkasPinisi, art of boatbuilding in South SulawesiUNESCO
DaftarRepresentative List, warisan budaya takbenda kemanusiaanUNESCO
Tahun dan sesi2017, sesi 12.COMUNESCO
Nomor keputusan12.COM 11.b.13UNESCO
Nomor berkas01197UNESCO
Tanggal7 Desember 2017Wikipedia bahasa Indonesia

Tanggal harian di baris terakhir berasal dari ensiklopedia. Untuk naskah formal, cocokkan dulu dengan dokumen keputusan di situs UNESCO sebelum menuliskannya sebagai kutipan resmi. Seluruh data di tabel ini kami cek pada Oktober 2026.

Apa yang dikatakan berkas tentang pusat pembuatan kapal dan penduduknya?

Berkas UNESCO menyebut tiga pusat pembuatan kapal: Tana Beru, Bira, dan Batu Licin. Berkas yang sama menyatakan sekitar 70 persen penduduknya mencari nafkah dari pekerjaan yang berkaitan dengan pembuatan kapal dan navigasi. Kutip angka ini sebagai pernyataan berkas UNESCO, lengkap dengan kata "sekitar". Pengukuran terpisah dari sumber resmi lain belum kami miliki.

Daftar tiga nama ini tidak sama dengan daftar komunitas di ensiklopedia, yang juga memuat Ara dan Lemo-Lemo. Perbandingannya kami uraikan di halaman tentang siapa pembuat pinisi, dan gambaran wilayahnya ada di panduan pinisi di Bulukumba. Saat mengutip UNESCO, pakai nama yang disebut UNESCO, walaupun Anda tahu ada desa lain yang berkaitan.

Pengetahuan apa yang diwariskan dalam tradisi ini?

Tiga lapis pengetahuan bisa ditelusuri dari sumber terbuka: siapa memimpin pekerjaan, bagaimana lambung disusun, dan tahap mana yang punya nama sendiri.

Lapis pertama adalah kepemimpinan kerja. Kepala tukang disebut punggawa. Dia memimpin pencarian kayu serta menentukan ukuran dan proporsi kapal, menurut Wikipedia. Sebutan panrita lopi kami bahas sendiri di halaman panrita lopi.

Lapis kedua adalah teknik lambung. ICH Courier terbitan UNESCO-ICHCAP menggambarkan teknik papan dulu: papan dirangkai menjadi kulit kapal lebih dulu, lalu gading dipasang mengikuti bentuk lambung, dengan sambungan pasak kayu. Pengetahuan semacam ini berada di tangan para tukang, karena bentuk lambung sudah jadi sebelum rangka masuk.

Lapis ketiga adalah urutan tahap, dengan upacara pada peletakan lunas dan Appasili. Wikipedia mencatat urutan berikut, dan batas catatannya ada di panduan ritual pembuatan kapal.

  1. Peletakan lunas, dengan upacara khusus.
  2. Kalebiseang: pemasangan papan pengapit lunas.
  3. Anjarreki: penguatan lunas.
  4. Penyusunan papan lambung.
  5. A'panisi: memasukkan majun ke sela papan, dengan perekat dari kulit pohon barruk.
  6. Allepa: mendempul.
  7. Appasili: ritual tolak bala saat kapal akan diluncurkan.

Urutan itu memperlihatkan keterampilan teknis dan tata upacara berjalan dalam satu alur kerja. Itulah sebabnya istilah seni membangun kapal lebih tepat daripada sekadar menyebut sebuah model kapal.

Mengapa tradisi ini diakui di tingkat dunia?

Alasan resminya ada pada keputusan 12.COM 11.b.13 dan sebaiknya dibaca langsung di situs UNESCO. Tiga butir di bawah ini adalah bacaan editorial kami atas fakta yang bisa ditelusuri. Jangan mengutipnya sebagai isi keputusan.

  • Tradisi ini menopang penghidupan. Angka penghidupan dalam berkas menunjukkan pembuatan kapal dan pelayaran adalah mata pencaharian sehari-hari di pusat-pusat tersebut.
  • Pengetahuannya berpindah lewat kerja. Para tukang bekerja di bawah arahan kepala tukang, dalam pekerjaan yang sama.
  • Kapalnya terus dipakai dan berubah. Hingga 1970/80-an, kapal berlayar pinisi adalah kapal layar terbesar di Indonesia. Pada 2011 sebuah perahu layar motor sepanjang 50 meter selesai di Bulukumba, dan kini pinisi modern juga dipakai sebagai kapal wisata, menurut Wikipedia.

Dengan kata lain, yang tercatat adalah praktik yang masih hidup. Perjalanan panjangnya ada di sejarah kapal pinisi, sedangkan makna istilah takbendanya kami jelaskan di arti warisan budaya takbenda bagi pinisi.

Apa yang tidak berubah setelah inskripsi 2017?

Kewajiban dokumen kapal tetap berjalan. Menurut Ditjen Perhubungan Laut, sertifikasi kapal dan kompetensi awak tetap wajib untuk kapal tradisional. Sumber itu tidak menyebut status budaya sebagai pengecualian. Rangkaian dokumennya ada di panduan registrasi dan dokumen kapal.

Soal bahan juga tetap perlu dinilai. Wikipedia mencatat ulin bersumber dari hutan alam dan kelestariannya terancam. Bila sebuah spesifikasi menyebut ulin, wajar bila Anda menanyakan asal kayunya. Pencatatan sebuah tradisi tidak otomatis menjawab pertanyaan pasokan bahan, sehingga pilihan kayu tetap perlu dinilai kapal per kapal.

Agenda pelestarian di tingkat daerah, termasuk festival dan museum, belum bisa kami pastikan, sehingga tidak kami tulis di sini.

Bila sebuah penawaran kapal memakai kata UNESCO, termasuk penawaran dari perusahaan kami, tanyakan apa kaitannya dengan spesifikasi, dokumen, dan metode kerja kapal tersebut. Desk ini bisa berakhir pada kontrak dengan perusahaan kami, jadi pertanyaan itu berlaku juga bagi kami. Bila Anda memang berniat membangun kapal, langkah awalnya ada di panduan rencanakan pemesanan.

Bagaimana cara mengutip keputusan UNESCO dengan benar?

Bentuk kutipan yang aman memuat judul berkas, nama daftar, nomor berkas, nomor keputusan, dan tahun:

UNESCO, Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi, Representative List, berkas No. 01197, keputusan 12.COM 11.b.13, diinskripsi 2017.

Beberapa rumusan berikut perlu dirapikan sebelum terbit, baik di laporan sekolah, materi pemasaran kapal, maupun siaran pers daerah.

Bagaimana cara mengutip keputusan UNESCO dengan benar?
Rumusan yang perlu dirapikanRumusan yang lebih tepatAlasannya
Kapal pinisi adalah warisan UNESCOSeni pembuatan kapal pinisi di Sulawesi Selatan masuk Daftar Representatif Warisan Budaya TakbendaJudul berkas merujuk pada seni membangun kapal
Kapal ini bersertifikat UNESCOKapal ini dibangun dengan metode dan oleh tukang yang disebutkan di kontrakInskripsi tidak melekat pada satu kapal
UNESCO sudah lama mengakui pinisiInskripsi terjadi pada 2017, sesi 12.COMTahun dan sesi tercantum di halaman berkas
UNESCO menyebut Bira, Ara, dan Lemo-LemoUNESCO menyebut Tana Beru, Bira, dan Batu LicinAra dan Lemo-Lemo berasal dari ensiklopedia

Aturan praktisnya pendek. Jadikan seni pembuatan kapal sebagai subjek kalimat, sebut tahun dan nomor berkas, lalu tautkan ke halaman UNESCO. Tiga langkah itu menghindarkan sebagian besar salah kutip yang tercantum di tabel.

Pertanyaan apa yang biasanya muncul tentang pinisi dan UNESCO?

Kapal pinisi ditetapkan UNESCO tahun berapa?

Tahun 2017, pada sesi ke-12 Komite yang berkode 12.COM. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat tanggalnya 7 Desember 2017.

Apakah ada satu kapal tertentu yang diakui UNESCO?

Tidak. Yang tercatat adalah seni membangun kapal di Sulawesi Selatan, sesuai judul berkas 01197.

Daerah mana yang disebut dalam berkas UNESCO?

Tana Beru, Bira, dan Batu Licin, yang disebut sebagai pusat pembuatan kapal.

Apakah status UNESCO menggantikan dokumen kapal?

Tidak. Pernyataan Ditjen Perhubungan Laut mewajibkan sertifikasi kapal dan kompetensi awak untuk kapal tradisional, tanpa menyebut pengecualian karena status budaya.

Apakah status UNESCO menandakan mutu sebuah kapal baru?

Tidak. Inskripsi mencatat sebuah tradisi, sehingga mutu satu kapal tetap dinilai dari spesifikasi, dokumen, dan pemeriksaan kapal itu sendiri.

Di mana teks resminya bisa dibaca?

Di halaman berkas 01197 pada situs Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Tautannya ada di daftar sumber halaman ini.

Dari mana fakta di halaman ini berasal?

Bagaimana cara menghubungi desk?

Punya koreksi atas kutipan di halaman ini, atau ingin membicarakan rencana kapal? Kirim pesan ke desk. WhatsApp: 6281139414563. Email: bd@juaraholding.com.

Punya spesifikasi kapal?

Kirim jenis kapal, ukuran, dan pekerjaannya. Desk menjawab dengan penawaran tertulis.

Minta penawaran lewat WhatsApp bd@juaraholding.com