Kapal  Phinisi
Menu

Tana Beru, Bulukumba: Pusat Pembuatan Kapal Pinisi

Di halaman ini
  1. Di mana letak Tana Beru, dan bagaimana cara ke sana?
  2. Mengapa Tana Beru begitu penting bagi kapal pinisi?
  3. Apa posisi Tana Beru dibanding Ara, Lemo-Lemo, dan Bira?
  4. Apa hubungan Tana Beru dengan Phinisi Nusantara?
  5. Apa yang bisa diamati kalau berkunjung?
  6. Kapan waktu yang tepat untuk datang?
  7. Bagaimana bersikap di tempat orang bekerja?
  8. Apa lagi yang bisa dikunjungi di sekitarnya?
  9. Bisakah kapal pesanan dikerjakan di Tana Beru?
  10. Apa yang sering ditanyakan tentang Tana Beru?
  11. Dari mana fakta di halaman ini berasal?
  12. Bagaimana cara menghubungi desk kami?

Oleh Kapal Phinisi Editorial Desk

Gerbang kawasan industri kapal rakyat di Tana Beru, Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba
Gerbang kawasan pembuatan kapal di Tana Beru, Bonto Bahari, Bulukumba. Foto: Midori, CC BY 3.0, Wikimedia Commons, ukuran diubah. Foto ilustrasi: bukan kapal, proyek, atau layanan situs ini, dan bukan kapal yang ditawarkan.

Tana Beru, yang juga ditulis Tanah Beru, adalah salah satu pusat pembuatan kapal pinisi di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Berkas UNESCO menyebutnya bersama Bira dan Batu Licin, dan mencatat sekitar 70 persen penduduk di pusat-pusat itu hidup dari pekerjaan terkait pembuatan kapal dan pelayaran. Kapal Phinisi Nusantara dibuat di sini.

Di mana letak Tana Beru, dan bagaimana cara ke sana?

Tana Beru berada di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Hal pertama yang perlu diperhatikan saat merencanakan perjalanan: jangan hanya memasukkan "Bulukumba" sebagai tujuan. Ibu kota kabupaten berada di Kecamatan Ujung Bulu, sedangkan Tana Beru ada di kecamatan lain. Masukkan nama Tana Beru, dan coba juga ejaan Tanah Beru bila peta atau pengemudi tidak mengenalinya.

Bila berangkat dari Makassar, perlu diingat bahwa jarak dan waktu tempuh belum punya rujukan yang bisa kami tautkan, jadi kami tidak mencantumkannya. Periksa di aplikasi peta pada hari keberangkatan, lalu tambahkan waktu cadangan. Tarif listing lama untuk angkutan ke arah Bira, lengkap dengan sumbernya, ada di panduan wisata galangan.

Mengapa Tana Beru begitu penting bagi kapal pinisi?

Alasan terkuatnya datang dari berkas UNESCO, yang menulis pusat pembuatan kapal ada di Tana Beru, Bira, dan Batu Licin, tempat sekitar 70 persen penduduk hidup dari pekerjaan terkait pembuatan kapal dan pelayaran. Angka itu memberi gambaran tentang tempat yang ekonominya bertumpu pada kapal, dan bukan sekadar lokasi kerajinan.

Ada tiga batasan saat membaca angka tersebut. Pertama, angka itu berlaku untuk ketiga pusat, sehingga tidak bisa dibaca sebagai angka khusus Tana Beru. Kedua, cakupannya meliputi pembuatan kapal dan pelayaran, jadi tidak semuanya tukang kapal. Ketiga, angka itu bersumber dari berkas inskripsi 2017, sehingga jangan dibaca sebagai data terbaru. Jumlah kapal yang dibuat di Tana Beru per tahun, serta jumlah tempat kerjanya, tidak tercatat di sumber halaman ini.

Apa posisi Tana Beru dibanding Ara, Lemo-Lemo, dan Bira?

Tana Beru tercantum baik dalam berkas UNESCO maupun dalam daftar komunitas pembuat di Wikipedia. Hanya Tana Beru dan Bira yang muncul di dua daftar itu. Perbandingannya kami tabelkan di panduan kapal pinisi Bulukumba.

Anda mungkin pernah membaca bahwa satu desa khusus membuat lambung, sementara desa lain khusus memasok tukang atau pelaut. Pembagian peran seperti itu tidak ada di sumber yang kami tautkan. Yang bisa dikatakan dengan pasti, orang Bira, Ara, Lemo-Lemo, dan Tana Beru sama-sama disebut sebagai pembuat pinisi.

Apa hubungan Tana Beru dengan Phinisi Nusantara?

Kaitan paling jelas yang bisa kami tunjukkan adalah kapal Phinisi Nusantara. Artikel Phinisi Nusantara di Wikipedia menyebut kapal itu dibuat di Tanah Beru. Kisah pelayarannya ke Vancouver ada di sejarah kapal pinisi, sedangkan yang menarik di sini adalah dua detail penamaannya.

Artikel tersebut memakai ejaan "Tanah Beru", yang menjelaskan mengapa dua ejaan hidup berdampingan. Artikel itu juga menyebut pembuatnya "perajin Bugis", padahal artikel Pinisi menyebut komunitas pembuatnya sebagai penutur bahasa Konjo. Kami menuliskan perbedaan ini apa adanya. Bila label suku penting bagi tulisan Anda, rujuk sumber masing-masing dan jangan menyamakannya.

Apa yang bisa diamati kalau berkunjung?

Kami belum memegang keterangan yang pasti tentang status kunjungan ke tempat pembuatan kapal di Tana Beru, termasuk apakah terbuka untuk umum, ada tiket, atau ada jam tertentu. Jadi anggap kunjungan sebagai sesuatu yang perlu izin di tempat. Kami juga tidak bisa menjanjikan akan ada kapal pada tahap tertentu saat Anda tiba.

Bila Anda mendapat izin melihat kapal yang sedang dikerjakan, pengetahuan tentang prosesnya membuat kunjungan jauh lebih berisi. Beberapa hal yang bisa dicermati:

  • Apakah papan lambung sudah tersusun sementara gading belum penuh. Itulah tanda teknik papan dulu.
  • Bagaimana sela antarpapan ditutup, dan apakah terlihat tahap penyumbatan atau pendempulan.
  • Letak kemudi yang direncanakan, karena jumlah dan posisinya membantu mengenali jenis lambung.
  • Siapa yang memberi arahan. Kepala tukang biasanya menjadi orang yang paling tepat untuk ditanya.

Nama dan urutan tiap tahap ada di tahapan pembuatan kapal pinisi. Baca lebih dulu sebelum berangkat, karena istilahnya lebih mudah dikenali bila sudah pernah dibaca.

Kapan waktu yang tepat untuk datang?

Tidak ada dasar yang cukup bagi kami untuk menunjuk bulan yang paling cocok melihat kegiatan pembuatan kapal atau peluncuran. Pembacaan pola musim tingkat kabupaten ada di panduan Bulukumba. Untuk keputusan beberapa hari ke depan, sumber yang lebih berguna adalah prakiraan cuaca BMKG untuk Bulukumba, yang tersedia per kecamatan. Di sana nama kecamatannya ditulis Bonto Bahari. Nilainya berubah harian, jadi baca langsung di sana.

Hal yang sama berlaku untuk kegiatan budaya. Untuk waktu festival, cek ke pihak penyelenggara atau pemerintah daerah sebelum memesan perjalanan.

Bagaimana bersikap di tempat orang bekerja?

Tempat pembuatan kapal adalah lokasi kerja dengan kayu berat dan alat potong, dan pembuatan kapal di sini juga terikat upacara. Saran berikut berasal dari akal sehat kami sebagai editor, dan tidak bersumber dari aturan tertulis setempat:

  • Minta izin sebelum masuk area kerja, memotret orang, atau menerbangkan drone.
  • Jangan memanjat kapal atau perancah kecuali diundang.
  • Jaga jarak dari tukang yang sedang memotong dan dari kayu yang sedang dipindahkan.
  • Bila sedang ada upacara, tanyakan dulu apakah tamu boleh melihat, dan jangan menyentuh kelengkapannya.
  • Bila Anda datang untuk urusan pesanan, sampaikan sejak awal agar percakapannya jelas.

Apa lagi yang bisa dikunjungi di sekitarnya?

Artikel Kabupaten Bulukumba di Wikipedia mendaftar sejumlah objek wisata: Pantai Tanjung Bira, Pantai Lemo-lemo, Tebing Apparalang, Pantai Bara, Pantai Mandala Ria, dan Pantai Kasuso. Cek jarak dan tiket masuk sendiri, karena daftar itu hanya memuat nama. Bagi yang datang untuk kapal, nama Bira dan Lemo-Lemo punya nilai tambah karena keduanya juga disebut sebagai komunitas pembuat pinisi.

Bisakah kapal pesanan dikerjakan di Tana Beru?

Pertanyaan ini perlu dijawab per penawaran, karena lokasi kerja ditulis di penawaran. Tanyakan sejak awal di mana kapal akan dikerjakan, dan cantumkan bila Anda punya kebutuhan khusus soal tempat, misalnya ingin bisa berkunjung selama pembangunan. Cara menilai sebuah tempat pembuatan kapal ada di panduan galangan kapal pinisi, dan langkah menyusun permintaan ada di panduan pemesanan.

Apa yang sering ditanyakan tentang Tana Beru?

Tana Beru atau Tanah Beru, mana yang benar?

Keduanya dipakai. Berkas UNESCO menulis Tana Beru, sedangkan artikel Phinisi Nusantara di Wikipedia menulis Tanah Beru. Saat mencari di peta, coba keduanya.

Tana Beru ada di kabupaten mana?

Di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tepatnya Kecamatan Bontobahari. Ibu kota kabupaten berada di kecamatan lain, yaitu Ujung Bulu.

Apakah Tana Beru sama dengan Bira?

Tidak. Berkas UNESCO menyebut keduanya sebagai dua pusat pembuatan kapal yang terpisah, dan Pantai Tanjung Bira tercatat sebagai objek wisata tersendiri.

Apakah Tana Beru terbuka untuk wisatawan?

Belum bisa kami pastikan, termasuk soal tiket dan jam kunjungan. Datanglah dengan anggapan bahwa Anda perlu izin di tempat.

Berapa kapal pinisi dibuat di Tana Beru setiap tahun?

Angka itu tidak kami tulis. Bila menemukan data resmi, kirimkan kepada desk agar kami dapat memeriksanya.

Dari mana fakta di halaman ini berasal?

Bagaimana cara menghubungi desk kami?

Untuk rencana kapal atau koreksi tentang Tana Beru, hubungi WhatsApp 6281139414563 atau bd@juaraholding.com.

Punya spesifikasi kapal?

Kirim jenis kapal, ukuran, dan pekerjaannya. Desk menjawab dengan penawaran tertulis.

Minta penawaran lewat WhatsApp bd@juaraholding.com